GIZI BURUK TIDAK SELALU TIDAK MAMPU
KONTROVERSI GIZI BURUK DI KOTA METROPOLITAN
Dr Widodo Judarwanto SpA
PICKY EATERS CLINIC JAKARTA
(KLINIK KESULITAN MAKAN)
RUMAH SAKIT BUNDA JAKARTA
JL Rawasari Selatan 50 Jakarta Pusat.
Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat
telp : (021) 70081995 – 4264126 – 31922005
email : wido25@hotmail.com , http://alergianak.bravehost.com
Data terkini dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana DKI Jakarta menyebutkan, hingga Agustus 2006 tercatat 9.253 anak balita yang berat badannya di bawah garis merah atau gizi buruk (Kompas 5 Agustus 2006). Bagi sebagian orang mungkin ini adalah berita yang menghebohkan. Topik hangat ini dianggap sebagai sumber berita eksklusif bagi media masa. Bagi pelaku politik dapat dijadikan alat komoditas untuk kepentingan tertentu. Bagaimana tidak, di kota metropolitan Jakarta yang secara fisik tampak glamour, mewah dan modern masih menyisakan sisi yang memprihatinkan. Benarkah gizi buruk yang terjadi di Jakarta karena kemiskinan?
Sebuah stasiun televisi swasta pernah menyiarkan topik penderita gizi buruk akibat kemiskinan. Anehnya, berita gambar yang muncul adalah anak yang sangat kurus sedang digendong si ibu yang gemuk, sehat dan bersih dengan baju yang cukup necis. Di latar belakang tampak rumah tinggalnya televisi berwarna 21 inchi dengan perangkat VCD dan dinding rumah tembok yang bagus.
Sebenarnya berita dan “informasi ganjil” tersebut tidak terlalu mengejutkan dan merupakan hal yang wajar. Penulis yang setiap hari praktek di Rumah Sakit swasta di kawasan Menteng Jakarta Pusat dengan mayoritas pengunjungnya ekonomi menengah atas kadang juga menjumpai kasus gizi buruk. Penyebab utama kasus gizi buruk di kota metropolitan tampaknya bukan karena masalah ekonomi atau kurang pengetahuan. Kasus gizi buruk di kota besar biasanya didominasi oleh malnutrisi sekunder. Malnutrisi sekunder adalah gangguan peningkatan berat badan atau gagal tumbuh (failure to thrive) yang disebabkan karena karena adanya gangguan di sistem tubuh anak. Sedangkan penyebab gizi buruk di daerah pedesaan atau daerah miskin lainnya sering disebut malnutrisi primer, yang disebabkan karena masalah ekonomi dan rendahnya pengetahuan.
MALNUTRISI PRIMER
Gejala klinis malnutrisi primer sangat bervariasi tergantung derajat dan lamanya kekurangan energi dan protein, umur penderita dan adanya gejala kekurangan vitamin dan mineral lainnya. Kasus tersebut sering dijumpai pada anak usia 9 bulan hingga 5 tahun, meskipun dapat dijumpai pada anak lebih besar. Pertumbuhan yang terganggu dapat dilihat dari kenaikkan berat badan terhenti atau menurun, ukuran lengan atas menurun, pertumbuhan tulang (maturasi) terlambat, perbandingan berat terhadap tinggi menurun. Gejala dan tanda klinis yang tampak adalah anemia ringan, aktifitas berkurang, kadang di dapatkan gangguan kulit dan rambut. Kasus marasmik atau malnutrisi berat karena kurang karbohidrat disertai tangan dan kaki bengkak, perut buncit, rambut rontok dan patah, gangguan kulit. Pada umumnya penderita tampak lemah sering digendong, rewel dan banyak menangis. Pada stadium lanjut anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun.
Marasmik adalah bentuk malnutrisi primer karena kekurangan karbohidrat. Gejala yang timbul diantaranya muka seperti orangtua (berkerut), tidak terlihat lemak dan otot di bawah kulit (kelihatan tulang di bawah kulit), rambut mudah patah berwarna kemerahan dan terjadi pembesaran hati. Anak tampak sering rewel, cengeng dan banyak menangis. Pada stadium lanjut yang lebih berat anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun.
Pada penderita malnutrisi primer dapat mempengaruhi metabolisme di otak sehingga mengganggu pembentukan DNA di susunan saraf. Pertumbuhan sel-sel otak baru atau mielinasi sel otak juga terganggu yang berpengaruh terhadap perkembangan mental dan kecerdasan anak. Mortalitas atau kejadian kematian dapat terjadi pada penderita malnutri primer yang berat. Kematian mendadak dapat terjadi karena gangguan otot jantung.
MALNUTRISI SEKUNDER
Malnutrisi sekunder adalah gangguan pencapaian kenaikkan berat badan yang bukan disebabkan penyimpangan pemberian asupan gizi pada anak Tetapi karena adanya gangguan pada fungsi dan sistem tubuh yang mengakibatkan gagal tumbuh. Gangguan sejak lahir yang terjadi pada sistem saluran cerna, gangguan metabolisme, gangguan kromosom atau kelainan bawaan jantung, ginjal dan lain-lain.
Data penderita gagal tumbuh di Indonesia belum ada, di negara maju kasusnya terjadi sekitar 1-5%. Artinya bila di Indonesia terdapat sekitar 30 juta anak, maka diduga terdapat 300.000 – 500.000 anak yang kurang gizi bukan karena masalah ekonomi. Bila di Jakarta terdapat 1 juta anak maka sekitar 10.000 – 50.000 anak mengalami kurang gizi bukan karena masalah ekonomi. Kasus tersebut bila tidak ditangani dengan baik akan jatuh dalam keadaan gizi buruk.
Gambaran yang sering terjadi pada gangguan ini adalah adanya kesulitan makan atau gangguan penyerapan makanan yang berlangsung lama. Tampilan klinis gangguan saluran cerna yang harus dicermati adalah gangguan Buang Air Besar (sulit atau sering BAB), BAB berwarna hitam atau hijau tua, sering nyeri perut, sering muntah, mulut berbau, lidah sering putih atau kotor. Manifestasi lain yang sering menyertai adalah gigi berwarna kuning, hitam dan rusak disertai kulit kering dan sangat sensitif. Berbeda pada malnutrisi primer, pada malnutrisi sekunder tampak anak sangat lincah, tidak bisa diam atau sangat aktif bergerak. Tampilan berbeda lainnya, penderita malnutrisi sekunder justru tampak lebih cerdas, tidak ada gangguan pertumbuhan rambut dan wajah atau kulit muka tampak segar.
Ketua Tim Adhoc Program Revitalisasi Posyandu Rini Sutiyoso mengatakan bahwa penderita gizi buruk di Jakarta sering diikuti penyakit penyerta TBC (kompas, 5 Oktober 2006). Tetapi fenomena tersebut harus lebih dicermati. Karena, pada kasus malnutrisi sekunder sering terjadi overdiagnosis tuberkulosis (TB). Overdiagnosis adalah diagnosis TB yang diberikan terlalu berlebihan padahal belum tentu mengalami infeksi TB. Penelitian yang dilakukan penulis didapatkan overdiagnosis pada 42 (22%) anak dari 210 anak dengan gangguan kesulitan makan disertai gagal tumbuh yang berobat jalan di Picky Eaters Clinic Jakarta (Klinik Khusus Kesulitan Makan). Laporan Badan Koordinasi Keluarga Berencana DKI Jakarta, bahwa kasus TB sering menyertai. Overdiagnosis tersebut terjadi karena tidak sesuai dengan panduan diagnosis yang ada. Hal lain adalah kesalahan dalam menginterpretasikan gejala klinis, kontak dan pemeriksaan penunjang khususnya tes mantoux dan foto polos paru. Sebaiknya bila diagnosis TB meragukan dilakukan konsultasi ke dokter ahli paru anak.
PENANGANAN BERBEDA
Bila kasus gizi buruk yang terjadi karena malnutrisi sekunder maka strategi penanganannya berbeda. Secara medis penanganan kasus malnutrisi sekunder lebih kompleks dan rumit. Penanganannya harus melibatkan beberapa disiplin ilmu kedokteran anak seperti bidang gastroenterologi, endokrin, metabolik, alergi-imunologi, tumbuh kembang dan lainnya.
Masukan data yang didapat harus cermat dan lengkap untuk menentukan apakah malnutrisi primer atau sekunder. Data yang ada harus didukung status medis, status ekonomi, pendidikan dan sosial yang akurat. Contohnya, pada keluarga tukang ojek di dapatkan satu anak gizi buruk tapi terdapat satu adiknya yang status gizinya bagus jangan langsung divonis kurang gizi akibat kemiskinan.
Gizi buruk memang merupakan masalah klasik bangsa ini sejak dulu. Tanpa data dan informasi yang cermat dan lengkap sebaiknya jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa adanya gizi buruk identik dengan kemiskinan. Karena, gizi buruk bukan saja disebabkan karena masalah ekonomi atau kurangnya pengetahuan dan pendidikan,

7 Comments:
ya, kenyataan yang ada ternyata memang begitu kompleks. anak balita sebagai generasi penerus bangsa yang terkena gizi buruk ternyata bukan dari kalangan menengah ke bawah saja. masalahnya ada pada pengetahuan dari ibu itu sendiri malah.
ayo, berikan perhatian terhadap masalah gizi di indonesia berawal dari peringatan hari gizi nasional indonesia 28 februari 2008 mendatang..
hai salam kenal nama aku imam ingin buat makalah ilmiah tentang gizi buruk asal aku dari NTB, tolong kalau punya data tetang gizi buruk dikirim ke alamat emil : yudijazz_boxer@yahoo.com
Yups, abaut gizi buruk emang mengenaskan, bayangkan di negeri yang notabene punya kekayaan melimpah koq masih ada yang kekurangan gizi untuk tumbuh, di zaman yang orang2nya dah modern dan sadar ilmu, miris emang, kelihatan timpang dimana2,siapa yang salah????aku juga masih menanyakannya, Saran buat pemerintah Dont Go anywhere, come to our country,Save our citizen from anythink...oy, insyAllah aq mau buat KTM abaut gizi buruk jadi klo punya informasi ttg GB ato tahu buku yang bagus or tahu data2 penderita gizi buruk di Indonesia wabil khusus di kota gudeg ' jogja ', pliss kirim ke emailQ yah..: azzahra_tamu@yahoo.com
saya setuju masalah gizi bukan hanya pada orang yang tidak mampu tetapi pada orang yang mampu juga banyak terjadi. Malnutrisi sekunder yang bapak sebutkan juga karena sistem tubuh mungkin ada terjadi pada anak namnun entah di INA kasusnya banyak atau tidak, karena itu berkaitan dg hormon tyroid dll.Menurut saya, kita harusnya assesment dulu masalah gizi di masyarakat kalau memang terjadi di masyarakat dengan menanyakan pola makan anak dan pola asuh orang tua/pengasuh..karena pengalaman saya di masyarakat banyak orang tua atau pengasuh yang pola asuhnya kurang baik (dalam hal kesabaran memberi makan) sehingga asupan makan anak berkurang. Padahal anak ingin disuapin sambil bermain ...ehh orang tua/pengasuh malah ogah akhirnya nafsu makan ank berkurang mungkn malah gak mau makan. Orang tua sibuk juga merupakan penyebab pola asuh yang kurang baik. ditambah lagi bagi orang kelas menengah ke atas dengan pengetahuan yang menurutnya baik tentang gizi selalu menganggungkan susu formula atau susu buat anak padahal itu tidak benar juga. Pemberian makanan pengganti ASI dan Pendamping ASI terlalu dini juga menyebabkan menurunnya berat badan...!!!Banyak tenaga kesehatan yang belum tahu juga ttg hal ini. Kalau masalahnya di di hormon itu diselesaikan melalui jalur medis tapi apabila sudah terkontrol atau sembuh dan ternyata pola asuh orangtua/pengasuh yang tetep salah...apakah tidak mungkin akan timbul kurang gizi lagi???TBC..saya setuju tidak mudah mendiagnosa TB..namun INA merupakan negara endemik dan..akhirnya gejala yang khas pun sudah tdk terdeteksi. biasanya orang tua atau keluarga yang terken TB akhirnya menular pada anak, sudah gitu watak bangsa kita ini Gengsi kalau di diagnosa TB oleh dokter..sudah di gratiskan obatnya tetep malas..ambil obat dan minum obat. Untuk Kurang gizi Di posyandu apabila KMS anak sudah berada di garis kuning dan di beri konseling oleh kader bahwa anaknya kemungkinan mengalami kurang gizi ga percaya. ya..karena merasa orang mampu atau kaya gengsi dibilang anaknya kurang gizi.
terima kasih
Salam kenal ..
Saya dokter di puskesmas di kabupaten probolinggo, puskesmas kami sedang merencanakan akan membuat klinik tumbuh kembang. Pelayanan tumbuh kembang anak pada balita di kecamatan kami, dan juga pelayanan konsultasi online melalui blog kami
http://balitakami.wordpress.com
Mohon masukan, kritik dan saran untuk lebih berkembangnya blog ini sebagai tempat kita mengoptimalkan tumbuh kembang anak-anak kita.
Terima kasih
draguscn.
Melihat anak yang kurus kering terkena gizi buruk sangat menyedihkan. Terlepas dia malnutrisi primer atau sekunder semua butuh pernanganan yang sungguh2.
Sang ibu harus peka dengan kondisi kesehatan anaknya dan harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang asupan gizi.
Kesibukan orang tua juga kerap kali dijadikan alasan untuk lalai mengasuh anak. Apabila orang tua peka dengan anaknya, maka akan cepat terdeteksi apakah si anak tumbuh kembangnya normal atau mengalami malnutrisi sekunder.
Maka akan dapat cepat tertanggulangi.
hui.. nice to meet you
good job n nice posting
masalah gizi buruk harus di tangani oleh pemerintah ..
Post a Comment
<< Home